Penduduk , Masyarakat dan Kebudayaan

  1. A.   Penduduk

Dalam sosiologi, penduduk merupakan kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.

Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

a)       Orang yang tinggal di daerah tersebut

b)       Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.

Permasalahan Penduduk

Masalah penduduk adalah masalah yang urgent oleh karena kulitas penduduk menetukan perkembangan pembangunan Negara yang penduduknya berkualitas dan mempunyai keahlian bidang tekhnologi maka Negara tresebut akan maju,kebanyakan penduduk tidak berkualitas maka Negara tersebut lamban untuk maju.

Ada 3 limas penduduk menurut Prof.Grey

1. Berbentuk kerucut

Di Negara berkembang penduduknya kebanyakan anak-anak atau usia tidak produktif.

2. Berbentuk nisan

Di Negara maju lahir 1 mati 1 jadi perbandingannya 1 banding 1

3. Berbentuk Granat

Di Negara supermaju berbentuk granat diamana kelahiran lebih sedikit dari kematian sehingga lansia lebih banyak . Contoh: Prancis, Swedia, Jerman

Usaha pemerintah menanggulangi masalah penduduk :

1) Mengadakan KB yang dulu anaknya ada 13 atau 14 sekarang diprogramkan 2 anak negeri lebih dari 2 anak swasta

2) Dengan mengadakan transmigrasi yaitu perpindahan penduduk dari daerah yang padat penduduknya ke daerah yang jarang penduduknya.

Penyebab penduduk tidak berkualitas :

1) Penduduk di Indonesia kesehatannya tidak efektif.

2) Bidang ilmu pengetahuan penduduk Indonesia kurang ahli dan kurang berkualitas.

3) Masalah perumahan di Indonesia belum merata memiliki rumah ada yang rumahnya bagus ada yang lantainya tanah

4) Masalah pekerjaan,pe.nduduk di Indonesia masih banyak yang tidak produktif tetapi konsumtif (menghabiskan).

Angka Kelahiran

Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Kegunaannya untuk mengetahui tingkat kelahiran yang terjadi di suatu daerah tertentu pada waktu tertentu.

Rumusan Angka Kelahiran

Angka Kelahiran Kasar (CBR) dihitung dengan membagi jumlah kelahiran pada tahun tertentu (B) dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama (P).

Rumus :

B = Jumlah kelahiran

P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun, P = (Po + P1)/2, Po = jumlah penduduk pada awal tahun dan P1 = jumlah penduduk pada akhir tahun.

Data yang Diperlukan

Jumlah kelahiran dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun di suatu wilayah. Jika tidak dapat diketahui data mengenai jumlah penduduk pada pertengahan tahun maka dapat digunakan data jumlah penduduk pada tahun tertentu.

Sumber Data

Data tentang jumlah kelahiran dan jumlah penduduk dapat diperoleh dari hasil sensus penduduk, registrasi vital, atau survei-survei tentang fertilitas. Dari Susenas, data tentang jumlah penduduk dapat diperoleh dari pertanyaan 3 dalam kuesioner pokok pada Seksi II Keterangan Rumahtangga. Data tentang jumlah kelahiran hidup dapat diestimasi secara tidak langsung dari data jumlah anak lahir hidup dengan menggunakan piranti lunak mortpack-lite.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kelahiran:

a)       Kebijakan pro-natalis dan anti-natalis dari pemerintah

b)       Tingkat aborsi

c)       Struktur usia-jenis kelamin yang ada

d)       Kepercayaan sosial dan religius – terutama berhubungan dengan kontrasepsi

e)       Tingkat buta aksara pada wanita

f)        Kemakmuran secara ekonomi (walaupun pada teorinya ketika sebuah keluarga memiliki ekonomi yang baik, mereka mampu untuk membiayai lebih banyak anak, dalam praktiknya kemakmuran ekonomi dapat menurunkan tingkat kelahiran)

g)       Tingkat kemiskinan – anak-anak dapat dijadikan sumber ekonomi pada negara berkembang karena mereka bisa menghasilkan uang (tenaga kerja anak)

h)       Angka Kematian Bayi – sebuah keluarga dapat mempunyai lebih banyak anak jika angka kematian bayi (Infant Mortality Rate / IMR) tinggi.

i)         Urbanisasi

j)        Homoseksualitas – pria dan wanita homoseksual hampir seluruhnya tidak menjadi ayah dan ibu, mengurangi angka kelahiran tiap tahunnya.

k)       Usia pernikahan

l)         Tersedianya pensiun

m)     Konflik

Angka kematian

Angka kematian adalah ukuran jumlah kematian (secara umum, atau karena penyebab tertentu) dalam populasi tertentu, diskala untuk ukuran populasi yang, per satuan waktu. Angka kematian biasanya dinyatakan dalam satuan kematian per 1000 individu per tahun, dengan demikian, tingkat kematian 9,5 pada populasi 100.000 akan berarti 950 kematian per tahun di seluruh penduduk, atau 0,95% dari . Hal ini berbeda dari tingkat morbiditas , yang mengacu pada jumlah individu dalam kesehatan yang buruk selama periode waktu tertentu ( angka prevalensi ) atau jumlah kasus baru yang muncul dari penyakit per unit waktu ( tingkat kejadian ).

Istilah ” kematian “juga kadang-kadang tidak tepat digunakan untuk merujuk kepada jumlah kematian di antara serangkaian kasus didiagnosis di rumah sakit untuk penyakit atau cedera, bukan untuk masyarakat umum dari suatu negara atau kelompok etnis. Ini statistik mortalitas penyakit ini lebih tepat disebut sebagai ” kematian kasus “.

Angka kematian dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1) Faktor-faktor penghambat kematian:

a) fasilitas kesehatan yang lengkap;

b) kemajuan pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan;

c) larangan agama membunuh orang;

d) makanan cukup bergizi;

e) lingkungan yang bersih dan teratur.

2) Faktor-faktor penunjang kematian:

a) adanya bencana alam dan wabah penyakit;

b) fasilitas kesehatan yang kurang;

c) tingkat kesehatan masyarakat yang rendah;

d) makanan kurang bergizi;

e) kecelakaan lalu lintas;

f) adanya peperangan.

Jumlah kematian untuk penyebab utama kematian:

a)       Heart disease: 616,067 Penyakit jantung: 616.067

b)       Cancer: 562,875 Kanker: 562.875

c)       Stroke (cerebrovascular diseases): 135,952 Stroke (penyakit serebrovaskular): 135.952

d)       Chronic lower respiratory diseases: 127,924 Penyakit pernapasan kronis yang lebih rendah: 127.924

e)       Accidents (unintentional injuries): 123,706 Kecelakaan (cedera yang tidak disengaja): 123.706

f)        Alzheimer’s disease: 74,632 Alzheimer penyakit: 74.632

g)       Diabetes: 71,382 Diabetes: 71.382

h)       Influenza and Pneumonia: 52,717 Influenza dan Pneumonia: 52.717

i)         Nephritis, nephrotic syndrome, and nephrosis: 46,448 Nefritis, sindrom nefrotik, dan nephrosis: 46.448

j)        Septicemia: 34,828 Septikemia: 34.828

Migrasi

Definisi Migrasi

Migrasi adalah penghijrahan sekumpulan manusia dari satu negara ke satu negara yang lain untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi mereka. Sebagai contohnya pada tahun ke-5 kerasulan, Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah melakukan proses penghijrahan atau migrasi dari Mekah ke Madinah untuk mempertahankan akidah dan agama Islam.

Definisi penghijrahan atau migrasi ini amat berbeza dengan pelarian yang membawa maksud sekumpulan manusia yang berpindah dari satu tempat ke satu tempat yang lain yakni berpindah ke tempat yang lebih selamat untuk mereka terus hidup setelah mengalami kehidupan yang sengsara kebiasaannya akibat meletusnya peperangan. Perkataan “pelarian ” itu sendiri pertama kali digunakan sejak 300 tahun dahulu, bagi menerangkan orang-orang beragama Protestan Hugenots yang melarikan diri dari negeri Peranchis.

Perbezaan antara migrasi dan pelarian

>Migrasi

1. Jika tidak melalui saluran yang sah terutama bagi penghijrah dari luar negara dipanggil pendatang haram ataupun penceroboh.

2. Boleh berlaku dari satu negara ke satu negara atau dari satu kawasan ke satu kawasan yang lain dalam negara yang contohnya migrasi luar bandar ke bandar.

3. Penghijrahan yang sah diterima baik oleh negara yang didatangi.

4. Masalah penghijrahan ada jalan penyelesaian dan tidak berlanjutan.

5. Bertujuan untuk mempertingkatkan lagi taraf ekonomi atau hidup seperti warganegara Indonesia, Bangladesh, Filiphina yang datang ke Malaysia untuk mendapatkan pekerjaan.

>Pelarian

1. Biasanya berlaku di peringkat antarabangsa, melibatkan perpindahan beramai-ramai dari satu negara ke satu negara terutamanya yang berdekatan atau bersempadan.

2. Istilah ” Pelarian ” digunakan sehingga satu tempoh tertentu, contohnya selepas 14 Mac 1998 , Malaysia telah mengistiharkan pelarian Vietnam sebagai pendatang haram.

3. Terjadi akibat peperangan; diskriminasi bangsa, agama dan warna kulit; perubahan sempadan negeri ; pencerobohan dan perjanjian peperangan.

4. Tidak mendapat jaminan atau perlindungan dari mana-mana pihak.

Bagaimana proses Migrasi berlaku ?

Apabila berlakunya proses migrasi dalam sesebuah negara, jelas menunjukkan bahawa negara tersebut sedang membangun dengan begitu pesat. Namun ia bukanlah satu hal yang dapat dibanggakan. Kemasukan pendatang asing sememangnya diperlukan oleh negara ini yang ketika itu dalam proses peralihan pergantungan ekonomi daripada sektor pertanian kepada sektor perindustrian dan perkhidmatan.

Pada awal tahun 1990an, apabila jumlah pendatang meningkat secara luar biasa hingga melebihi satu juta orang, isu ini menjadi hangat dan menimbulkan kebimbangan banyak pihak, lebih-lebih lagi apabila kebanyakan mereka datang secara haram. Dalam konteks negara kita Malaysia, Kehadiran hampir sebahagian besar tenaga buruh asing inilah yang telah menyumbangkan tenaga ke arah pembangunan negara.

Dalam era mencapai wawasan 2020 ini, pergantungan kepada buruh asing kursusnya dalam bidang pembinaan, perladangan dan perkilangan harus dibendung dengan segera. Sudah sampai masanya rakyat negara ini mencontohi warga asing ini yang rajin dan tekun bekerja walaupun bukan untuk negara sendiri. Sebenarnya banyak faktor telah memainkan peranan dalam terjadinya proses migrasi ini.

Antara faktor-faktor tersebut adalah:

  • Faktor ekonomi

Faktor ekonomi merupakan faktor utama yang meyumbang kepada berlakunya proses migrasi ini. Kedudukan ekonomi yang mantap dan kukuh menyebabkan wujudnya banyak sektor-sektor pertanian, pembinaan dan perkilangan, sekaligus membuka peluang kepada rakyat sesebuah negara termasuk juga golongan pendatang yang datang khususnya untuk mencari rezeki di negara orang.

Peluang pekerjaan juga wujud bagaikan “cendawan selepas hujan” disebabkan ramai rakyat tempatan tidak berminat lagi berkecimpung di dalam sektor perladangan dan pembinaan, maka kedatangan penghijrah dari Indonesia, Bangladesh dan lain-lain negara, in seolah-olah satu rahmat kepada para pengusaha sektor tersebut.

Kedatangan golongan pendatang ini terbatas kerana kesukaran untuk masuk secara sah ke dalam sesebuah negara. Kita ambil contoh negara kita Malaysia, walaupun berbagai kawalan ketat telah dijalankan namun sempadan dan perairan negara mudah dibolosi oleh mereka secara haram. Salah satu sababnya ialah wujudnya tekong darat dan laut samada dari golongan mereka sendiri ataupun penduduk tempatan yang menjalankan kegiatan ini semata-mata kerana tamakkan wang ringgit.

  • Taraf ekonomi yang rendah di negara sendiri.

Bagi negara Malaysia khususnya, kemakmuran ekonomi seringkali dijadikan alasan untuk menjelaskan mengapa negara ini menarik perhatian ramai rakyat Indonesia dan Bangladesh malah termasuk juga negara-negara yang mengalami taraf ekonomi yang gawat.

Sejak berlakunya kegawatan ekonomi di rantau Asia ini yang menyebabkan jatuhnya nilai mata wang negara-negara dunia ketiga, dengan secara tidak langsung harga-harga barangan di pasaran meningkat dengan mendadak, maka ini juga merupakan salah satu faktor migrasi berlaku.

Taraf kehidupan semakin tinggi jadi sebagai alternatifnya mereka terpaksa mencari rezeki untuk menampung perbelanjaan keluarga masing-masing, memandangkan taraf ekonomi negara mereka yang rendah maka wujudlah migrasi ke negara-negara yang menyediakan peluang pekerjaan yang banyak kepada mereka.

Bilangan penduduk yang ramai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang di negara asal mereka, menyebabkan golongan ini terpaksa mencari alternatif lain untuk meneruskan kehidupan. Oleh itu jalan yang paling mudah ialah merebut kesempatan yang ada di negara yang menjanjikan pendapatan yang lumayan.

  • Faktor sosiobudaya

Sebenarnya faktor sosiobudaya juga memainkan peranan utama menyebabkan pendatang Indonesia semakin bertambah dari hari ke hari ke negara kita. Bahkan boleh dikatakan faktor sosiobudaya ini memainkan peranan yang sama pentingnya dengan faktor ekonomi, mennjadi daya tarikan kepada pendatang Indonesia ini.

Faktor persamaan sosiobudaya antara kedua-dua negara akan selamanya didapati menjadi daya tarikan untuk mereka datang ke negara ini.Dengan adanya persamaan ciri-ciri ini proses untuk mereka menyesuaikan diri akan berjalan dengan lancar. Keupayaan mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan di negara ini merupakan “pasport” utama, membolehkan mereka mengekalkan dan mempertahankan kedudukan mereka di negara ini.

Hubungan kekeluargaan yang ada didapati sering dijadikan sebagai batu loncatan dikalangan pendatang baru untuk berhijrah ke negara ini. Penghijrahan kaum keluarga terdahulu seolah-olah membentuk satu rangkaian yang memudahkan kedatangan penghijrah lain.Tambahan pula terdapat sebilangan pendatang yang telah mendapat taraf penduduk tetap negara ini, membolehkan mereka ini secara tidak langsung membawa masuk kaum keluarga mereka yang lain.Hal ini dipermudahkan lagi jika pendatang Indonesia tersebut mempunyai sanak saudara yang terdiri daripada rakyat tempatan.

Persamaan cara hidup di kalangan rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia, salah satu faktor yang dikenal pasti mengapa pendatang Indonesia lebih tertarik datang ke negara ini. Dari segi budaya, penduduk yang berbilang kaum, bahasa, makanan, dan kebebasan beragama merupakan antara ciri-ciri yang mempunyai persamaan yang erat antara penduduk kedua-dua negara. Keupayaan mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat setempat dapat mengelakkan daripada timbulnya konflik yang besar.

Persamaan bahasa yang ada memudahkan golongan pendatang ini berinteraksi dengan masyarakat tempatan. Keadaan ini membolehkan mereka berada di negara sendiri. Golongan pendatang Indonesia ini juga mudah tinggal di negara kita disebabkan warga besar mereka yang datang adalah beragama Islam.

Faktor persamaan agama juga memainkan peranan yang agak besar menjadi daya penarik kedatangan golongan ini. Atas dasar saudara di dalam Islam maka sedikit sebanyak kehadiran golongan ini dapat diterima oleh masyarakat tempatan khususnya di kalangan masyarakat melayu. Kebebasan beragama yang diamalkan di Malaysia secara harmoni dan dihormati oleh semua kaum, menguatkan lagi tarikan untuk datang ke negara ini.

  • Faktor kestabilan politik

Kestabilan politik sesebuah negara memainkan peranan yang penting dan berkait rapat dengan ekonomi negara dan proses migrasi antarabangsa. Sebuah negara yang aman dan makmur secara tidak langsung dapat mengelakkan berlakunya migrasi penduduk negara tersebut ke negara lain, sebaliknya menyebabkan penduduk negara lain berhijrah ke negara tersebut.

Dari segi kajian yang telah dibuat menunjukkan ketidakstabilan politik sesebuah negara menyebabkan peratus migrasi yang tinggi, ini dapat dilihat pada negara-negara seperti Indonesia, Bangladesh, Filipina, Thailand dan lain-lain yang berhijrah ke Malaysia secara haram.(Rujuk Jadual 1).

 Struktur penduduk

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang besar. Data tentang jumlah penduduk dapat diketahui dari hasil Sensus Penduduk (SP). Sensus penduduk yang telah dilakukan selama ini adalah SP 1930, SP 1961, SP 1971, SP 1980, SP 1990, dan yang terakhir adalah Sensus Penduduk 2000. Untuk memenuhi kebutuhan data antara dua sensus, Badan Pusat Statistik melaksanakan Survey Penduduk Antar Sensus (Supas) tiap-tiap tahun yang akhiran dengan angka lima, kecuali Supas 1976. Selama ini telah dilaksanakan Supas 1985, Supas 1995 dan yang terakhir adalah Supas 2005.

Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan dll. penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dll. yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Bagian ini akan membahas tentang karakteristik penduduk menurut umur dan jenis kelamin, serta karakteristik penduduk menurut persebaran tempat tinggal, dan pertumbuhan penduduk.

Umur Penduduk

Dalam pengetahuan tentang kependudukan dikenal istilah karakteristik penduduk yang

berpengaruh penting terhadap proses demografi dan tingkah laku sosial ekonomi penduduk. Karakteristik penduduk yang paling penting adalah umur dan jenis kelamin, atau yang sering juga disebut struktur umur dan jenis kelamin. Struktur umur pendudukdapat dilihat dalam umur satu tahunan atau yang disebut juga umur tunggal (single age), dan yang dikelompokkan dalam

lima tahunan. Dalam pembahasan demografi pengertian umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir. Misalnya Ani lahir pada bulan Januari tahun 1998 dan Sensus 2000 dilaksanakan pada bulan Juli. Jadi pada saat Sensus 2000 dilaksanakan Ani berusia 2 tahun 6 bulan, tetapi dalam perhitungan demografi Ani dicatat sebagai berumur 2 tahun saja.

Indikator Karakteristik Penduduk
Indikator penting tentang umur dan jenis kelamin maupun jumlah penduduk adalah:
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)
3. Tingkat pertumbuhan penduduk

Rasio Ketergantungani

Definisi
Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua.

  • Rasio Ketergantungan Muda adalah perbandingan jumlah penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur 15 – 64 tahun.
  • Rasio Ketergantungan Tua adalah perbandingan jumlah penduduk umur 65 tahun ke atas dengan jumlah penduduk di usia 15-64 tahun.

Kegunaan
Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Cara Menghitung
Rasio Ketergantungan didapat dengan membagi total dari jumlah penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produktif (65 tahun keatas) dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Rumus

Dimana

RKTotal = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda dan Tua

RKMuda = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda

RKTua = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Tua

P(0-14) = Jumlah Penduduk Usia Muda (0-14 tahun)

P(65+) = Jumlah Penduduk Usia Tua (65 tahun keatas)

P(15-64) = Jumlah Penduduk Usia Produktif (15-64 tahun)

Contoh

Untuk memudahkan pemahaman tentang perhitungan Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio), di bawah ini diberikan contoh perhitungan dengan menggunakan data SP 2000 (lihat Tabel 1). Langkah pertama adalah menghitung jumlah penduduk yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok umur muda (0-14 tahun), kelompuk usia kerja 15-64 tahun (umur produktif) dan kelompok umur tua (65 tahun ke atas).

Tabel 1  Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Muda, Umur Produktif, dan Umur Tua, Tahun 2000

Kel. Umur

Jumlah Penduduk

0-14

63 206 000

15-64

13 3057 000

65+

9 580 000

Setelah jumlah penduduk kelompok umur muda (0-14 tahun), umur produktif (15-64 tahun) dan umur tua (65 tahun ke atas) diperoleh. Selanjutnya dapat dihitung rasio ketergantungan (dependency ratio, dengan hasil seperti yang disajikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Rasio Ketergantungan Muda, Tua, dan  Total  Tahun 2000

Keterangan

Rasio Ketergantungan

RKTot

54,7

RKMuda

47,0

RKTua

7,2

Interpretasi

Dari contoh perhitungan di atas, rasio ketergantungan total adalah sebesar 54,7 persen, artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggunagn sebanyak 55 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Rasio sebesar 54.7 persen ini disumbangkan oleh rasio ketergantungan penduduk muda sebesar 47,0 persen, dan rasio ketergantungan penduduk tua sebesar 7,2 persen. Dari indikator ini terlihat bahwa pada tahun 2000 penduduk usia kerja di Indonesia masih dibebani tanggung jawab akan penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan tanggung jawab terhadap penduduk tua.

Rasio ketergantungan ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan keadaan pada saat sensus 1971. Pada tahun 1971 rasio ketergantungan total adalah sebesar 86 per 100 penduduk usia kerja, dan kemudian menurun secara pasti sampai tahun 2000. Penurunan ini terjadi terutama karena penurunan tingkat kelahiran sebagai dampak dari keberhasilan program keluarga berencana selama 30 tahun terakhir.

  1. A.   Masyarakat

Istilah masyarakat berasal dari kata musyarak yang berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti ikut serta atau berpartisipasi, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Society. Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi tentang masyarakat menurut beberapa ahli :
 -PETER L. BERGER
Definisi masyarakat adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.
-SELO SUMARDJAN
masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama danmenghasilkan kebudayaan
 -MARX
Masyarakat ialah keseluruhan hubungan – hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya
-GILLIn & GILLIN
Masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
-HAROLD J. LASKI
Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama
-ROBERT MACIVER
Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan (society means a system of ordered relations)
-HORTON & HUNT
Masyarakat adalah suatu organisasi manusai yang saling berhubungan
-MANSUR FAKIH
Masyarakat adalah sesuah sistem yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan masing-masing bagian secara terus menerus mencari keseimbangan  (equilibrium) dan harmoni.

Faktor-Faktor / Unsur-Unsur Masyarakat

Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini :

1. Berangotakan minimal dua orang.

2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.

3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang salingberkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat

4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu samalain sebagai anggota masyarakat.

 Ciri / Kriteria Masyarakat Yang Baik Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpolanmanusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat.

1. Ada sistem tindakan utama

2. Saling setia pada sistem tindakan utama.

3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.

4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia

  1. A.   Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Keterkaitan Antara Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan

Penduduk, masyarakat dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat antara satu sama lainnya. Dimana penduduk adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan penduduk yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh peraturan-peraturan yang berlaku di dalam wilayah tersebut. Masyarakat tersebutlah yang menciptakan dan melestarikan kebudayaan; baik yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ataupun kebudayaan baru yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu penduduk, masyarakat dan kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan sendiri berarti hasil karya manusia untuk melangsungkan ataupun melengkapi kebutuhan hidupnya yang kemudian menjadi sesuatu yang melekat dan menjadi ciri khas dari pada manusia ( masyarakat ) tersebut.
Masyarakat dan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa.

Pertumbuhan dan Perkembangan Agama Serta Kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia

Proses Masuknya Agama ISLAM ke Indonesia

Abad ke 15 da 16 agama islam telah dikembangkan di Indonesia, oleh para pemuka-pemuka islam yang disebut Walisongo. Titik penyebaran agama Islam pada abad itu terletak di Pulau Jawa. Sebenarnya agama Islam masuk ke Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sebelum abad ke 11 sudah ada wanita islam yang meninggal dan dimakamkan di Kota Gresik. Masuknya agama Islam ke Indonesia berlangsung secara damai. Hal ini di karena masuknya Islam ke Indonesia tidak secara paksa. Melainkan dengan cara baik-baik, di samping itu disebabkan sikap toleransi yang dimiliki bangsa kita.

Abad ke 15 ketika kejayaan maritim Majapahit mulai surut , berkembanglah negara-negara pantai yang dapat merongrong kekuasaan dan kewibawaan majapahit yang berpusat pemerintahan di pedalaman. Negara- negara yang dimaksud adalah Negara malaka di Semenanjung Malaka,Negara Aceh di ujung Sumatera, Negara Banten di Jawa Barat, Negara Demak di Pesisir Utara Jawa Tengah, Negara Goa di Sulawesi Selatan .

Dalam proses perkembangan negara-negara tersebut yang dikendalikan oleh pedagang. Pedagang kaya dan golongan bangsawan kota- kota pelabuhan, nampaknya telah terpengaruh dan menganut agama Islam. Daerah-daerah yang belum tepengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama Islam mempunyai pengaruh yang mendalam dalam kehidupan penduduk. Di daerah yang bersangkutan. Misalnya Aceh, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Timur, Sumatera Barat, dan Pesisr Kalimantan.

Agama Islam berkembang pesat di Indonesia dan menjadi agama yang mendapat  penganut

sebagian terbesar penduduk Indonesia
Proses Masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan letaknya sangat strategis, yaitu terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Indonesia dan Pasifik) yang merupakan daerah persimpangan lalu lintas perdagangan dunia.Untuk lebih jelas nya lihat gambar di atas.
Awal abad Masehi, jalur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat (jalur sutera) tetapi beralih kejalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif dalam perdagangan tersebut.
Akibat hubungan dagang tersebut, maka terjadilah kontak/hubungan antara Indonesia dengan India, dan Indonesia dengan Cina. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab masuknya budaya India ataupun budaya Cina ke Indonesia.

Mengenai siapa yang membawa atau menyebarkan agama Hindu – Budha ke Indonesia, tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun demikian para ahli memberikan pendapat tentang proses masuknya agama Hindu – Budha atau kebudayaan India ke Indonesia.
Untuk penyiaran Agama Hindu ke Indonesia, terdapat beberapa pendapat/hipotesa yaitu antara lain:
1.Hipotesis Ksatria, diutarakan oleh Prof.Dr.Ir.J.L.Moens berpendapat bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah kaum ksatria atau golongan prajurit, karena adanya kekacauan politik/peperangan di India abad 4 – 5 M, maka prajurit yang kalah perang terdesak dan menyingkir ke Indonesia, bahkan diduga mendirikan kerajaan di Indonesia.
2.Hipotesis Waisya, diutarakan oleh Dr.N.J.Krom, berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang yang datang untuk berdagang ke Indonesia, bahkan diduga ada yang menetap karena menikah dengan orang Indonesia.
3.Hipotesis Brahmana, diutarakan oleh J.C.Vanleur berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kaum Brahmana karena hanyalah kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan Kaum Brahmana tersebut diduga karena undangan Penguasa/Kepala Suku di Indonesia atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu ke Indonesia.

Pada dasarnya ketiga teori tersebut memiliki kelemahan yaitu karena golongan ksatria dan waisya tidak mengusai bahasa Sansekerta. Sedangkan bahasa Sansekerta adalah bahasa sastra tertinggi yang dipakai dalam kitab suci Weda. Dan golongan Brahmana walaupun menguasai bahasa Sansekerta tetapi menurut kepercayaan Hindu kolot tidak boleh menyebrangi laut.
Disamping pendapat / hipotesa tersebut di atas, terdapat pendapat yang lebih menekankan pada peranan Bangsa Indonesia sendiri, untuk lebih jelasnya simak uraian berikut ini.

Hipotesis Arus Balik dikemukakan oleh FD. K. Bosh. Hipotesis ini menekankan peranan bangsa Indonesia dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya India di Indonesia dilakukan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik. Golongan ini dalam penyebaran budayanya melakukan proses penyebaran yang terjadi dalam dua tahap yaitu sebagai berikut:
*.Pertama, proses penyebaran di lakukan oleh golongan pendeta Budha atau para biksu, yang menyebarkan agama Budha ke Asia termasuk Indonesia melalui jalur dagang, sehingga di

Indonesia terbentuk masyarakat Sangha, dan selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah menjadi biksu, berusaha belajar agama Budha di India. Sekembalinya dari India mereka membawa kitab suci, bahasa sansekerta, kemampuan menulis serta kesan-kesan mengenai kebudayaan India. Dengan demikian peran aktif penyebaran budaya India, tidak hanya orang India tetapi juga orang-orang Indonesia yaitu para biksu Indonesia tersebut. Hal ini dibuktikan melalui karya seni Indonesia yang sudah mendapat pengaruh India masih menunjukan ciri-ciri Indonesia.
*.Kedua, proses penyebaran kedua dilakukan oleh golongan Brahmana terutama aliran Saiva-siddharta. Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk menduduki golongan Brahmana harus mempelajari kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat ditasbihkan menjadi Brahmana. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siva dan dapat melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri untuk menghindukan seseorang
Jadi hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses masuknya penganut Hindu – Budha ke Indonesia. Beberapa hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya pengaruh Hindu – Budha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah namun tetap di dukung oleh proses perdagangan.

Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama Budha yang disebut dengan Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama Budha masuk ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Budha yang terbuat dari perunggu diberbagai daerah di Indonesia antara lain Sempaga (Sulsel), Jember (Jatim), Bukit Siguntang (Sumsel). Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari langgam Amarawati (India Selatan) dari abad 2 – 5 Masehi. Dan di samping itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di Kota Bangun, Kutai (Kaltim).

 Kebudayaan Barat

Unsur kebudayaan barat juga memberi warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan Barat. Masuknya budaya Barat ke Negara Republik Indonesia ketika kaum kolonialis atau penjajah masuk ke Indonesia, terutama bangsa Belanda. Penguasaan dan kekuasaan perusahaan dagang Belanda (VOC) dan berlanjut dengan pemerintahan kolonialis Belanda, di kota-kota propinsi, kabupaten muncul bangunan-bangunan dengan bergaya arsitektur Barat. Dalam waktu yang sama, dikota-kota pusat pemarintahan, terutama di Jawa, Sulawesi  Utara, dan Maluku berkembang dua lapisan sosial.

  1. lapisan sosial yang terdiri dari kaum buruh
  2. lapisan sosial yang terdiri dari kaum pegawai

Dalam kedua lapisan inilah pendidikan barat di sekolah-sekolah kemampuan atau kemahiran Bahasa Belanda menjadi syarat  utama untuk mencapai kenaikan kelas. Akhirnya masih harus disebut sebagai pengaruh Kebudayaan Eropa yang masuk juga ke dalam Kebudayaan Indonesia, ialah agama Katolik dan Agama Kristen Protestan. Agama-agama tersebut biasanya disiarkan dengan sengaja oleh  organisasi penyiaran  agama yang bersifat swasta. Penyiaran dilakukan di daerah- daerah dengan penduduk  yang belum pernah mengalami pengaruh agama Hindu, Budha, atau Islam daerah itu misalnya Irian Jaya, Maluku Tengah dan Selatan, Sulawesi Utara dan tengah, Nusa Tenggara Timur dan Pedalaman  Kalimantan. Sudah menjadi watak dan kepribadian timur pada umumnya, serta masyarakat Jawa khususnya, bahwa menerima setiap kebudayaan yang datang dari luar,kebudayaan  yang dimilikinya tidaklah diabaikan. Tetapi disesuaikanlah kebudayaan yang baru itu dengan kebudayaan lama.

Sehubungan dengan itu penjelasan UUD’45 memberikan rumusan tentang kebudayaan memberikan rumusan tentang kebudayaaan  bangsa Indonesia adalah: kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang ada sebagai puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dalam penjelasan UUD’45 ditujukan ke arah mana kebudayaan itu diarahkan, yaitu menuju kearah kemajuan budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan baru kebudayaan asing yang dapat mengembangkan kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia

Kebudayaan dan kepribadian

Berbagai penelitian antropologi budaya menunjukan  bahwa terdapat korelasi antar corak kebudayaan dengan corak kepribadian anggota masyarakat. Opini umum juga menyatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa adalah cermin kepribadian bangsa yang bersangkutan. Kalau begitu dari sisi mana kebudayaan dapat memberi pengaruh pada suatu kepribadian??. Jika kita melihat dari sisi sikap pemilik kebudayaan itu sendiri. Pemilik kebudayaan itu menganggap bahwa segala sesuatu terangkum dan terlebur dalam segala materi kebudayaan itu sebagai sesuatu yang logis, normal serasi, dan selaras dengan kodrat dalam tabiat asasi manusia dan sebagainya. Kepribadian bangsa indonesia yang ramah tamah, suka menolong, memiliki sifat kegotong royongan adalah ciri umum dari sekian banyak kepribadian dari suku-suku yang berada di Republik Indonesia dan terpatri menjadi ciri khas kepribadian Bangsa Indonesia.

Referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Penduduk

http://carapedia.com/pengertian-defenisi-masyarakat_menurut_para_ahli_info488.html

http://id.wikipedia.org/wiki/masyarakat

http://id.wikipedia.org/wiki/budaya_indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Tingkat_kelahiran

http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=118&fname=sej106_03.htm.

http://missevi.wordpress.com/2010/08/14/rasio-ketergantungan-2/

http://slamet-triyono.blogspot.com/2009/11/rasio-ketergantungan.html.

http://sevenlone.blogspot.com/2010/10/angka-kelahiran-dan-kematian-penduduk_18.html

http://missevi.wordpress.com/2010/08/14/struktur-penduduk/

http://ismana1.ngeblogs.com/2009/10/30/pertumbuhan-dan-perkembangan-kebudayaan-di-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s